Jumat, 17 Januari 2014

Laporan Wisin

Dieng – Yogyakarta
                D.1 Candi Dieng
                                               
                                               
Dataran tinggi Dieng dianggap merupakan suatu tempat yang memiliki kekuatan misterius sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur, sehingga tempat ini dianggap suci. Dieng berasal dari kata Dihyang yang artinya tempat arwah para leluhur. Terdapat beberapa komplek candi di daerah ini, komplek Candi Dieng dibangun pada masa agama Hindu, dengan peninggalan Arca Dewa Siwa,Wisnu, Agastya, Ganesha dan lain-lainya bercirikan Agama Hindu. Candi-candi yang berada di dataran tinggi Dieng diberi nama yang berkaitan dengan cerita atau tokoh-tokoh wayang Purwa dalam lokan Mahabarata, misalnya candi Arjuna, candi Gatotkaca, candi Dwarawati, candi Bima, candi Semar, candi Sembadra, candi Srikandi dan candi Puntadewa. Nama candi tersebut tidak ada kaitannya dengan fungsi bangunan dan diperkirakan nama candi tersebut diberikan setelah bangunan candi tersebut ditinggalkan atau tidak digunakan lagi. Tokoh siapa yang membangun candi tersebut belum bisa dipastikan, dikarenakan informasi yang terdapat di 12 prasasti batu tidak ada satupun yang menyebutkan siapa tokoh yang membangun.

D.2 Kawah Sikidang
                                 
Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Dari karakter inilah namanya berasal karena penduduk setempat melihatnya berpindah-pindah seperti kijang (kidang dalam bahasa Jawa).

D.3 Danau Talaga Warna

Telaga Warna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung, Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Keunikan lain adalah yang membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Telaga Merdada, adalah merupakan yang terbesar di antara telaga yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Airnya yang tidak pernah surut dijadikan sebagai pengairan untuk ladang pertanian. Bahkan Telaga ini juga digunakan para pemancing untuk menyalurkan hobi atau juga wisatawan yang sekadar berkeliling dengan perahu kecil yang disewakan oleh penduduk setempat.

D.4 Dieng Plateau Theatre
                   
Gedung Megah diatas gunung itu diberi nama Dieng Plateau Theater yang di remiskan oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 6 Maret 2006. Dalam sana kami melihat sebuah film singkat, didalam film itu diceritakan bagaimana indahnya Dataran Tinggi Dieng dengan pesona-pesona alamnya yang eksotis. Terdapat banyak sekali tempat wisata yang indah, misalnya kawah-kawah, danau-danau, tempat-tempat sejarah seperti Candi Dieng dan lain sebagainya.






D.5 Keraton Ngayogyakarta
                                   
                                    Kraton Yogyakarta dibangun pada tahun 1756 atau tahun Jawa 1682. Siapakah gerangan arsitek dari ketaron tersebut ? Beliau ialah Sri Sultan Hamengku Buwono I sendiri. Waktu masih muda beliau bergelar Pangeran Mangkubumi Sukowati. Luas keraton Yogyakarta ini adalah 14.000 m2. Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan, halaman-halaman dan lapangan-lapangan.
                                    Dan sesungguhnya kraton Yogyakarta ini penuh dengan arti-arti. Arsitektur bangunan-bangunannya, letak bangsal-bangsalnya, ukiran-ukirannya, hiasannya, sampai pada warna gedung-gedungnya pun mempunyai arti. Pohon-pohon yang di tanam di dalamnya bukan sembarangan pohon. Semua yang ada di kraton Yogyakarta seakan memberikan nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, berlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam tingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain.Terdapat banyak sekali peninggalan-penginggalan sejarah di dalam kraton Yogyakarta ini. Lukisan-lukisan, patung-patung dan lain sebagainya masih tertata dengan rapi dan indah.

D.6 Pantai Baron
                 
Pantai Baron adalah salah satu pantai yang indah di daerah jogjakarta, yang mana salah satu dari beberapa yang sangat banyak pengunjung wisata asing. Pantai Baron adalah pantai yang sangat cantik yang menawarkan pemandangan indah dan masakan hasil laut yang memanjakan lidah. Pantai Baron memiliki ombak yang besar, para wisatawan pun tidak boleh asal melewati batas pantai yang telah ditentukan petugas penjaga pantai, dengan hal ini tentunya harus berhati-hati bagi para wisatawan jika ingin berenang di pantai ini.




            Kami berkunjung ke pantai Baron setelah sholat Jumat dan makan siang di salah satu restoran lokal. Saat itu pantai Baron sedang cukup ramai di kunjungi oleh para wisatawan. Hal pertama yang kami lakukan adalah mendengarkan instruksi dari pemandu wisata. Kami melakukan beberapa game, setelah selesai kami bebas bermain, beberapa dari kami ada yang berfoto-foto, ada yang bermain pasir. Keindahan pantai Baron yang saya lihat adalah ombaknya yang cukup besar.dan keindahan lainnya adalah pantai yang dikelilingi oleh pegunungan ini sangat enak dilihat.

D.7 Potensi Ekonomi Dieng

Penduduk Dieng yang mayoritas muslim ini hampir seluruhnya bermata pencaharaian sebagai petani. Mereka menanam kentang, kubis dan bawang di lahan-lahan perkebunan yang bertingkat-tingkat.  Kontur daerah dataran tinggi Dieng yang berbukit membuat penanaman kubis, kentang dan bawang dilakukan pada tanah perkebunan yang berbatu. Sementara itu, terjalnya medan diatasi dengan membuat petak-petak kebun dengan sistem terasering. Untuk mengatasi longsor, para petani membatasi kebun-kebun mereka dengan batu-batu alam yang banyak berserakan.

Dalam pemeliharaannya, kentang, kubis dan bawang tersebut hanya dengan menebarkan pupuk organik berbahan batu kotoran ayam sehingga begitu memasuki daerah perkebunan, bau kotoran ayam sangat menyengat.  Kendati demikian, kentang Dieng terkenal sebagai kentang terbaik di Indonesia. Dalam sebulannya, petani-petani di Dieng mampu menghasilkan 40 ton umbi tanaman yang berumur hanya 90 hari itu.

Selain dipasarkan di pasar-pasar tradisional, kentang-kentang Dieng juga sudah melanglang buana hingga ke Singapura. Lantaran sudah terkenal, membuat tanah-tanah perkebunan di sekitar dataran tinggi Dieng harganya melambung tinggi.








                                                                                                                                                                    





Potensi ekonomi dalam bidang pariwisata juga dimiliki oleh dataran tinggi dieng dengan peninggalan- peninggalan sejarahnya berupa candi, kawah, telaga. Potensi ekonomi yang lain yang dapat dikembangkan oleh masyarakat Dieng adalah tempat penginapan bagi para wisatawan dan juga usaha dagang dari kebutuhan pokok sampai dengan makanan maupun aksesories sebagai oleh-oleh yang dapat dibawa pulang para wisatawan, dan juga jasa angkut yang diperlukan untuk berkeliling mengunjungi tempat-tempat yang akan dituju.

D.8 Budaya Masyarakat Dieng
            Kebudayaan yang menurut Koentjaraningrat sebagai hasil belajar ini menuntun manusia untuk beradaptasi dan menaklukan alam. Seperti contohnya adalah DCF atau Dieng Culture Festival ini adalah pesta rakyat terbesar di pegunungan Dieng, yang diselenggarakan setiap tahun hanya sekali. Contohnya menampilkan ruwatan cukur rambut gembel yang telah lama melegenda.
            Ruwatan adalah upacara penyucian yang sudah menjadi adat di Jawa. Upacara ini dilakukan untuk membuang sial, mala petaka dan mara bahaya yang bisamenyerang orang yang bersangkutan. Sebagai sebuah upacara ruwatan anak gimbal diDieng ini tentunya sudah dilakukan secara turun-temurun.